Posted by: deetaty on: Desember 27, 2009
Jujur saya belum membaca novel ini. Novel yang bercerita tentang kehidupanya A. Fuadi sang penulis novel yang pernah mengecap pendidikan di pondok modern Gontor. Saya hanya membaca komentar orang-orang di goodreads.com dan juga lewat berita- berita tentang novel Negeri 5 Menara.
Kejadian kehidupan memang selalu menarik untuk ditulis untuk disebarkan orang lain(tentunya hal yang baik dan tidak menggunjing), karena selalu saja aka ada cermin yang bisa untuk mengaca kesuksesan ataupun keberhasilan seseorang. Setidaknya orang menjadi tahu bagaimana kehidupan di pondok pesantren itu setelah membaca novel ini. Bukankah hal seperti ini bersedekah ilmu karena jika ada yang berubah menjadi lebih baik setelah membaca novel ini maka kebaikan akan terus mengalir disana. Walaupun novel ini seperti mengekor ketenaran Lascar Pelangi tetapi jika banyak hal positif yang kita ambil kenapa tidak.
Saya sendiri belum pernah mengenyam pendidikan di pesantren, tetapi saya pernah bekerja di balai kesehatan pesantren putri Almawaddah Coper Jetis Ponorogo. Ada dokter satu orang saat itu bu dokter Rohmah dan saya sendiri perawatnya. Kita harus selalu siap siaga jika ada yang santri yang sakit kapanpun itu walaupun tengah malam. Yang sakit ringan-ringan saja kita rawat sedangkan yang parah kita rujuk ke rumah sakit. Jadi saya sempat mengetahui bagaimana kehidupan santri itu sehari-harinya. Dari mereka antri makanan, bagaimana mereka belajar bahasa arab dan juga bahasa inggris, kehilangan sandal ketika di masjid(menurutku sih ngga hilang cuman pindah tempat saja sepertinya karena saking banyaknya )sampai ada yang sandalnya digembok biar tidak ada yang mengambil ataupun dengan cara seperti itu tidak akan kehilangan satu sandal.
Pernah ada kejadian mengesankan. Disana diwajibkan santrinya untuk menggunakan dua macam bahasa Inggris dan juga bahasa Arab. Dibagi tiap dua pekan jadi dua pekan bahasa Arab dan dua pekan bahasa Inggris. Kalau sampai ketahuan melanggar menggunakan bahasa Indonesia ataupun bahasa daerah hukumanya berdiri dengan satu kaki. Pekan itu adalah pekan bahasa Arab ada santri yang sakit waktu kita tanya dia jawabnya memakai bahasa Arab karena takut kalau memakai bahasa Indo takut kena hukuman. Waktu itu bahasa Arab saya benar-benar nol begitu juga dengan bu dokternya. Kita katakan kalau memakai bahasa Indonesia saja tetapi tetap saja dia jawabnya memakai bahasa Arab kita tidak akan melaporkan ke bagian pendidikan malah dia menjawab bagian pendidikan tidak tahu tetapi Alloh tentu saja Maha Melihat. Kuacungkan jempol untukmu karena kamu tidak takut kepada hukuman manusia tetapi kamu takut kepada pengawasan Ilahi. Tetapi masalahnya kita berdua ini tidak mudeng bagaimana mau mengobati kalau keluhanya tidak tahu coba?
Saya yang tidak suka kegaduhan sempat beberapa hari tidur saya terganggu karena berisiknya santri. Apalagi kalau malam hari bagaimana gaduhnya para santri itu , siang hari sepi karena mereka semua belajar di kelas. Setiap malam mereka menghapalkan kosakata bahasa Arab dan bahasa Inggris bersama-sama. Coba saja kalau saat itu saya ikut belajar pasti kosakata dua bahasa asing saya untuk saat ini pasti tidak minimalis seperti sekarang ini ya. Penyesalan selalu diakhir.
Ada bagian dari novel Negeri 5 Menara ini yang cukup menarik yaitu kata mutiara Imam Safi’i
Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
Semboyan man jadda wajada atau siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil juga melecutkan semangat bagi siapa saja yang membacanya. Bahwa untuk merealisasikan mimpi itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Ibarat tangga harus sabar dinaiki satu persatu.
Bagi siapa yang ingin melihat pondok madani/ Darussalam/kampus biru padahal setahuku cat temboknya hijau bisa mampir ketempat saya. Lebih terkenal dengan pondok Gontor karena terletak di desa Gontor kecamatan Jetis Ponorogo.Dekat lho 14km(tepatnya belum pernah ngukur) dari gubuk keluarga saya yang berada di Jerman(jejere Kauman maksudku).
Februari 4, 2010 pada 1:06 pm
deket dari tempatmu? asik… ajakin gue dunk.. plisss….
Februari 4, 2010 pada 3:09 pm
Bisa ntar tak anter keliling pondok ada teman yang rumahnya dekat pondok kok.